Oleh. Siti Aniyah Kelas XIIB

            Kring..kring..kring… alarm berbunyi membuat Cintya Dwi Anggreani terbangun dari tidurnya. Lalu dia mematikan alarmnya dan bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Lima belas menit kemudian, Cintya selesai. Dia pergi ke ruang makan dan menyapa kedua orang tuanya. ’’Ma, Pa, selamat pagi… ’’ ucapnya sambil menduduki kursi makan. ‘’Pagi juga’’ jawab mama dan papanya. Setelah itu, mereka sarapan bersama. Di tengah-tengah mereka sarapan , mama membuka percakapan. ‘’Tya, Mama dan Papa mau bicara sama Kamu.” ucap mama. Cintya menjawab ‘’Mau bicara apa Ma, Pa?’’ tanya Cintya kepada orang tuanya. ‘’Papa dan Mama mau mondokkan kamu ke pesantren setelah lulus SMP,’’ ucap Papa. ‘’Kenapa Papa dan Mama mau mondokkan Tya?’’ tanya Cintya kepada mama dan papa penasaran. ‘’Papa dan Mama mau Kamu menjadi anak yang sholihah dan pintar ilmu agama,”  ucap papa kepada Cintya. ‘’Cintya tidak bisa menjawab sekarang, Ma.’’ lirihnya. Setelah itu, Cintya berpamitan kepada kedua orang tuanya untuk berangkat ke sekolah ‘’Ya udah Ma, Pa, Cintya mau berangkat ke sekolah dulu, Assalamu’alaikum… ’’ ucap Cintya sambil mencium tangan keduan orang tuanya. ’’Wa’alaikum salam… hati-hati di jalan ya, Nak.’’ jawab mereka.

            Sampai di Sekolah, Cintya masuk ke dalam kelas dan duduk di bangkunya. Selama pelajaran berlangsung, Cintya tidak memperhatikan guru yang sedang menerangkan. Sedangkan Angel teman dekat Cintya tampak heran memperhatikan tingkah laku teman sebelahnya yang sedang melamun. Setelah pelajaran selesai, Cintya dan Angel pergi ke kantin untuk memesan makanan dan minuman. Sambil menunggu pesanan datang Angel bertanya ke Cintya. “Tya, kenapa sih! Kamu dari tadi melamun aja, kamu punya masalah?’’ tanya Angel. “Iya Ngel, aku mau dipondokkan mama dan papaku’’ jawabnya lirih. ‘’Oo.. sama dong Tya, aku juga mondok” jawab Angel senang. “Ya… menurutku sih, mondok tuh enak, kita bisa belajar mandiri dan belajar ilmu agama’’ lanjutnya penuh keyakinan. Cintya terdiam tidak menjawab perkataan Angel. Ketika makanan sudah datang, mereka makan sambil ngobrol ‘’Bukan gitu Ngel… Aku gak mau mondok karena aku ingin masuk sekolah SMK, sedangkan di sana hanya SMA jurusannya cuma IPA dan IPS tidak sebanyak di SMK’’ ucap Cintya. ‘’Cintya, kamu itu dipondokkan supaya kamu tahu tentang ilmu agama buat bekal akhirat nanti, sedangkan pekerjaan di dunia itu hanya sementara. Aku yakin, orang tuamu memondokkan kamu itu karena ingin anaknya menjadi lebih baik. Yakinlah!’’ tegas Angel kepada Cintya. “Okelah kalau begitu, aku coba ngomong sama orang tuaku nanti,’’ jawab Cintya kepada Angel.

             Setelah makanannya habis, mereka kembali ke kelas untuk melanjutkan pelajaran terakhir. Satu jam pelajaran telah selesai, mereka membereskan semua bukunya ke dalam tas, lalu siap-siap beranjak pulang. Sampai di rumah, Cintya langsung ke kamar mengganti seragamnya dengan kaos panjang dan celana jeans. Lalu dia pergi ke ruang tamu menemui orang tuanya yang sedang menonton TV. ‘’Ma, Pa, Cintya mau… ’’ ucapnya tiba-tiba sambil duduk di sebelah mamanya. ‘’Mau apa?’’ tanya mamanya. “Cintya mau masuk pondok,” ucap Cintya. “Alhamdulillah… ’’ jawab orang tuanya bersamaan.

             Dua bulan berlalu, tibalah kelulusan Angel dan Cintya yang telah berjuang selama bertahun-tahun. Setelah kelulusan, mereka berlibur bersama sebelum masuk ke pondok. “Dua minggu lagi kita akan berangkat ke pondok, Tya,’’ ucap Angel kepada Cintya sambil memandang langit. “Iya Ngel, nggak terasa ya,’’ jawabnya. Mereka sama-sama menikmati pemandangan malam tampak bintang bertaburan yang ada di atas langit.

            Dua minggu kemudian, Cintya, Angel, dan keluarganya berangkat ke Pondok Pesantren Al Fatich. Sampai di sana, mereka semua keluar dari mobil dan mengeluarkan barang-barang bawaannya dari bagasi mobil. Setelah itu, mama Cintya berpesan kepada Cintya.’’Tya, jaga kesehatan ya, Nak. Jangan nakal dan jadilah anak yang shalihah dan pintar,’’ ucap mama kepada Cintya sambil meneteskan air mata karena mama sebenarnya tidak tega meninggalkan Cintya sendirian, tetapi bagaimana lagi mama harus merelakan. ‘’Iya Ma,  Cintya akan jaga kesehatan kok, tapi Mama juga jaga kesehatan untuk Cintya,” ucapnya sambil memeluk mamanya. Mereka berdua terisak dalam pelukan. “Ya udah, Mama sama Papa pulang dulu ya sayang… ’’ ucapnya sambil melepaskan pelukannya. Orang tua Angel juga berpamitan kepada Cintya. ‘’Om sama tante mau pulang juga Cintya,” ucap tante sambil mengelus kepala Cintya dan Angel. Lalu Cintya dan Angel bersalaman kepada kedua orang tuanya. Mereka menuju ke kamarnya untuk membereskan barang bawaannya. Setelah itu, mereka duduk santai di kasur. Tiba-tiba ada seorang wanita menghampiri mereka. ‘’Hai, kalian anak baru ya?’’ tanya wanita itu kepada mereka. ‘’Iya, emang kenapa?’’ tanya balik ke Cintya dengan ramah. Tiba-tiba wanita tersebut memanggil teman-temannya. ‘’Hai teman-teman, mereka anak baru di sini. Kita kenalan dulu agar mereka tahu nama kita,’’ ucap wanita itu.  “Oo… iya kenalin namaku Rahma dan sebelahku Amel, sebelahnya lagi Fadiah,’’ ucap Rahma kepada Angel dan Cintya. Lalu mereka bertiga bersalaman kepada Angel dan Cintya. ‘’Namaku Cintya dan ini sahabatku namanya Angel,” ucap Cintya memperkenalkan diri kepada mereka bertiga. “Senang berkenalan dengan kalian,” ucap Angel kepada mereka bertiga sambil tersenyum.

             Satu minggu kemudian, semua santri putri mengaji kitab kuning yang dibacakan oleh ustadz Faiz. Beliau menerangkan tentang seorang penghafal Al-Qur’an. “Bagi penghafal Al- Qur’an, dia akan memberikan sepasang mahkota di surga nanti untuk kedua orang tuanya dan bisa menyelamatkan keluarganya dari neraka.’’ Dawuh ustadz Faiz sangat menyentuh sanubarinya. Dalam hati dia begumam. ‘’Jika suatu saat nanti aku menjadi penghafal Al- Qur’an, aku bisa memberikan sepasang mahkota kepada orang tuaku di surga nanti dan bisa menyelamatkan kelurgaku dari api neraka,’’ batiinya tersenyum penuh harap. Setelah mengaji kitab kuning, Cintya dan Angel langsung mengambil makanan di dapur karena sudah waktunya jam makan malam. Setelah mengambil makanan, mereka kembali ke kamar untuk makan bersama dengan posisi yang nyaman. Pada saat sarapan, Cintya membuka pembicaraan. “Ngel, sepertinya aku tertarik dawuhnya ustadz Faiz yang disampaikan tadi,” ucapnya santai. ‘’Dawuh yang mana, Cintya?’’ tanya Angel kepadanya. “Dawuh yang menerangkan tentang seorang penghafal Al- Qur’an,’’ jawabnya kepada Angel. Jawaban Cintya membuat Angel terkejut. “Aach… yang benar Tya, menjadi hafidhoh itu tidak gampang, loh’’ jelasnya ke Cintya. “Iya, aku tahu Ngel, tapi insyaallah aku bisa menjalaninya,” ucapnya dengan penuh keyakinan. “Terserah Kamulah… ’’ balasnya dengan pasrah.

            Setelah selesai makan, semua santri bersiap-siap mengaji. Bagi santri baru wajib mengaji di rumahnya bu nyai terlebih dahulu agar dapat menentukan kelompok ngajinya. Setelah bu nyai datang, beliau memanggil satu-per satu santrinya untuk mengaji di depannya. Pada saat Cintya dipanggil bu nyai, dia menyuruh Cintya membuka Al-Qur’annya. “Buka surat Ar Rohman” pinta bu nyai kepada Cintya. Kemudian Cintya mulai membacanya “Bissmillahhirrohmaninnirrohim. Ar Rohman… ’’ Cintya membacanya sampai selesai sedangkan bu nyai menyimaknya. ‘Bagus sekali bacaanmu, suaramu juga merdu, sekarang kamu pilih mengaji biasa atau hafalan,’’ tanya bu nyai kepada Cintya. “Saya ingin menghafal Al Qur’an, Nyai,’’ jawab Cintya dengan malu. Lalu bu nyai menjawab “Subhanallah… kalau gitu, mulai besok kamu hafalkan juz tiga puluh dulu ya, Cintya” perintah bu nyai. “Iya, Nyai,’’ jawab Cintya dengan senang.

            Keesokan harinya, Cintya mulai menghafalkan juz tiga puluh. Beberapa minggu kemudian, Cintya sudah mulai menghafalkan juz pertama dan melanjutkan juz berikutnya sampai khatam. Setelah dua tahun Cintya berjuang menghafal Al- Qur’an, cukup banyak ujian yang Cintya alami. Cintya pernah putus asa melanjutkan hafalan Al-Qur’annya. Akan tetapi, berkat Angel sahabat Cintya yang selalu memberi semangat agar Cintya tetap menghafal meski banyak rintanga menghadang. “Tya, tetaplah semangat, jangan putus asa menghafalkan Al-Qur’an, ingat dulu tujuanmu apa… menjadi hafidhoh, bukan?” tanya Angel ke Cintya yang menangis karena tidak kuat menghadapi ujian. ‘’Iya Ngel, Aku ingat,’’ balasnya sambil menghapus air matanya sendiri. ‘’Ya udah dong,  jangan menangis. Tetap semangat, ada aku yang selalu mendukungmu,’’ ucapnya sambil tersenyum.

            Akhirnya, Cintya mulai bangkit lagi, dia sempat rapuh tetapi dia ingat tujuan menjadi hafidhoh, dia kembali semangat untuk menghafalkan sampai khatam. Setelah shalat ashar, seperti biasa semua santri mengaji kitab kuning yang dibacakan oleh ustadz Faiz. “Semua umat manusia itu tidak semuanya bahagia, pasti ada kesedihan, kebahagiaan, dan cobaan. Kita hanya menjalani dengan sabar, ikhtiar, dan ikhlas. Insyaallah semuanya selesai’’ Dawuh ustadz Faiz. Cintya menyimak dawuh-dawuh ustadz Faiz dengan saksama. ‘’Tuh dengerin Tya… sabar, ikhtiar, dan ikhlas,’’ ucap Angel kepada Cintya ‘’Iya Ngel, Aku dengar,’’ jawabnya sambil tersenyum.

            Setelah pengajian kitap kuning selesai, Angel dan Cintya turun dari tangga. Tiba-tiba Cintya terpeleset. Cintya jatuh dari tangga atas sampai bawah. ‘’Cintyaaa… ’’ ucapnya sambil teriak, Angel pun sontak berlari turun dari tangga menghampiri Cintya untuk menolongnya. Angel berteriak meminta tolong. ‘’Tolong… tolong… tolong…!’’ teriak Angel sambil menangis. Cintya ditolong banyak teman-temannya dan segera dibawa ke rumah sakit, Angel menemaninya dengan badan gemetar karena melihat Cintya tergolek lemah. Sampai di rumah sakit, Cintya langsung dibawa ke ruangan UGD. Lima jam Angel menunggu, tidak ada kabar dari dokter tentang keadaan Cintya. Angel tidak henti-hentinya berdoa dan berharap Cintya tidak kenapa-apa.

            Tidak lama kemudian, dokter keluar dari ruangan UGD. Angel langsung menghampiri dan bertanya keadaan Cintya.’’Dok, gimana kondisi teman saya?’’ tanyanya  cemas. “Temanmu tidak apa-apa, dia cuma luka sedikit di bagian kepalanya,” jelas dokter kepada Angel “Alhamdulillah, syukurlah kalau tidak apa-apa,” ucap Angel sedikit lega. “Dok, boleh saya masuk menemui teman saya di dalam?’’ tanya Angel kepada dokter. “Boleh, silakan,” jawab dokter dengan senyum.

            Angel masuk ke ruangan UGD menemui Cintya yang sedang terbaring di sana. “Cintya…  alhamdulillah kamu sudah sadar, kamu enggak apa-apa, kan?” tanya Angel kepada Cintya. “Enggak apa-apa kok,” jawab Cintya sambil tersenyum. Angel penasaran mengapa Cintya sampai bisa terjatuh dari tangga. “Oya, kenapa kamu kok bisa jatuh dari tangga, gimana ceritanya?’’ tanya Angel penasaran. “Aku rindu kedua orang tuaku, Ngel” jawab Cintya dengan raut wajah sedih. “Ya Allah Cintya, betapa rindunya kamu sama orang tuamu  tanpa kamu sadari, kamu sudah mencelakai dirimu sendiri,” ucapnya kepada Cintya dengan nada sebal. “Maaf…. “ Hanya kata maaf yang keluar dari bibir Cintya. “Ya udah kalau kamu sudah sembuh, nanti aku telepon orang tuamu agar datang menemuimu,” ucapnya kepada Cintya. “Tapi Ngel, orang tuaku masih di luar kota, mereka merawat nenekku yang sedang sakit,” ucapnya sedih. Dengan pasrah Angel mengatakan ‘’Ya udah doakan saja, semoga orang tuamu baik-baik saja di sana,” ucapnya kepada Cintya. “Ya udah, sekarang kamu istirahat dulu agar cepat pulang,” ucap Angel sambil menarik selimut Cintya sampai ke dadanya.  “Selamat tidur,” ucap Angel sambil mengelus kepala Cintya. Cintya pun tertidur.

            Sudah tiga hari Cintya dirawat di rumah sakit, dokter mengatakan dia boleh pulang. Angel membereskan semua pakaian Cintya dan memasukkan ke dalam tas. “Cintya, alhamdulillah kamu sekarang boleh balik lagi ke pondok, tapi ingat kamu jangan memikirkan sesuatu di saat kamu berjalan di atas tangga, janji,” harapnya kepada Cintya. Angel tidak ingin terjadi apa-apa terhadap sahabatnya. Angel menjulurkan jari kelingkingnya ke hadapan Cintya. ‘’Iya Ngel, Aku janji,” uapnya sambil mengikat jari kelingkingnya ke jari kelingking Angel. Mereka berdua pun tersenyum. “Ya udah, ayo kita balik ke pondok!” ajaknya kepada Cintya. Sampai di pondok, mereka langsung masuk ke kamarnya. Angel meletakkan barang-barang Cintya ke tempat tidurnya. Mereka berdua duduk di atas kasurnya Cintya untuk istirahat sebentar.

            Tiba-tiba ada tiga wanita masuk menghampiri mereka. Tiga wanita tersebut adalah Amel, Fadiah, dan Rahma. Mereka adalah teman kamarnya Cintya dan Angel. “Bagaimana keadaanmu Cintya?” tanya Rahma penasaran. “Alhamdulillah, sudah sehat Ma,” jawabnya sambil tersenyum . “Alhamdulillah, ya udah kamu istirahat dulu aja tidak usah ikut kegiatan dulu,” ucap Amel. “Iya Mel, makasih,” jawabnya kepada Amel. ‘’Ya udah kita bertiga keluar dulu ya, Cintya’’ ucap Fadiah kepada Cintya. “Iya Fadiah,” jawabnya. “Assalamu’alaikum…” ucap mereka sambil menutup pintu kamar dan meninggalkan mereka berdua. “Wa’alaikum salam…” jawab Cintya dan Angel. Setelah mereka bertiga keluar, Cintya membaringkan tubuhnya ke kasur. “Ya udah kamu istirahat, Aku keluar dulu supaya Kamu nyaman tidurnya,” ucap Angel kepada Cintya. “Iya makasih, Ngel,” ucapnya kepada Angel. ”Iya sama-sama Tya, assalamu’alaikum…’’ ucapnya “Wa’alaikum salam, Ngel,’’ jawabnya. Angel keluar dari kamar dan meninggalkan Cintya sendiri agar dia bisa beristirahat dan besok bisa melanjutkan aktivitasnya lagi yang sempat tertunda.

            Keesokan harinya, Cintya mulai menyetor hafalannya lagi ke bu nyai. ‘’Cintya, kamu sudah sembuh, Nak?’’ tanya bu nyai ke Cintya. “Iya Nyai, Alhamdulillah Cintya sudah sembuh,’’ ucap Cintya kepada bu nyai. Setelah itu, Cintya menyetorkan hafalannya ke bu nyai dengan suara khasnya yang sangat merdu. Bu nyai menyimaknya dengan saksama.

            Tiga tahun kemudian, Cintya telah menghafal Al- Qur’an sampai dua puluh delapan juz. Kurang dua juz lagi. Dia ingin sebelum lulus mengkhatamkan Al-Qur’annya dulu. ‘’Tya, kenapa kamu tidak memberitahukan kepada orang tuamu soal ini,” ucapnya kepada Cintya “Karena Aku tidak ingin orang tuaku tahu sebelum kelulusan tiba,’’ jawab Cintya kepada Angel. “Emangnya kenapa kamu kok nunggu kelulusan, kenapa gk sekarang aja,” tanya Angel ke Cintya dengan penasaran.”Aku ingin memberi kejutan kepada orang tuaku,” jawab Cintya kepada Angel dengan senyuman. Angel pun mengangguk tanda mengerti. Selesai percakapan mereka pun mulai tertidur.

            Satu bulan kemudian, acara kelulusan tiba. Cintya dipanggil ke atas panggung untuk menerima piala prestasi karena dia berhasil menyabet peringkat pertama. Angel pun tidak mau kalah, dia naik ke atas panggung karena dia berhasil meraih peringkat siswa teladan.  Setelah mereka berada di atas panggung, pembawa acara mempersilakan Cintya untuk memberi kesan sebagai peringkat pertama.    “Silakan Cintya,” ucap pembawa acara. Cintya langsung maju dua langkah dan mengambil mikrofon yang ada di depannya. Sebelum dia mulai bicara, dia melihat orang tuanya yang tidak jauh dari panggung. Dia melihat orang tuanya yang sedang meneteskan air matanya, entah itu tetesan air mata bahagia atau sedih. Akhirnya Cintya angkat bicara. “Assalamu’alaikum warahmatullah wabarokatuh…  Saya atas nama Cintya Dwi Angreani, pertama-tama saya berterima kasih kepada Allah SWT yang telah memberiku ilmu dengan perantara guru-guruku, masayikhku, dan teman-temanku yang selalu menyemangatiku dan tidak lupa saya berterima kasih kepada orang tuaku yang sangat Saya sayangi,” sambil menunjuk mama dan papanya yang ada di depan panggung. Setelah itu, Cintya melanjutkan ucapannya yang sempat terhenti. “Jika Mama dan Papa tidak memaksa Cintya untuk masuk ke pondok, Cintya tidak mungkin berdiri di sini, sebagai balasannya Cintya mau memberikan kejutan pada Mama dan Papa tapi tidak bisa Cintya kasih sekarang tapi besok di surga. Maksud dari semua itu, Cintya mau jujur kalau Cintya sekarang menjadi seorang hafidhoh. Maaf… Cintya tidak pernah cerita kepada Mama dan Papa, tujuan Cintya menjadi hafidhoh yang tidak lain karena ingin di surga nanti dapat memberikan sepasang mahkota kepada Mama dan Papa dan bisa menyelamatkan keluarga Saya dari api neraka, semoga membawa berkah…’’  ucap Cintya sambil menangis dan terisak di pelukan Angel. Semua hadirin ikut takjub dan terharu atas ucapan yang disampaikan Cintya.

            Tiba-tiba kedua orang tua Cintya berjalan menuju ke atas panggung memeluk Cintya. Cintya dan kedua orang tuanya terisak ke dalam pelukannya.  Lalu mama berkata ‘’Kami bangga sama Kamu, Nak. Terima kasih Kamu telah memberikan kejutan dan hadiah terindah dan sangat berharga untuk Kami,’’ ucapnya sambil memeluk Cintya dengan erat. Cintya membalas pelukannya lalu mengambil sepasang mahkota yang sudah disediakan oleh panitia untuk wisuda khataman Al- Qur’an. ‘’Ma, Pa, ini Cintya punya sepasang mahkota. Cintya ingin memasangkan mahkota ini di kepala Mama dan Papa, tapi ini mahkota palsu yang asli besok di surga. Cintya bisa menyelamatkan keluarga kita dari api neraka dan di akhirat kelak kita bisa berkumpul bersama,” ucapnya kepada orang tuanya lalu memeluk orang tuanya lagi dan menangis di pelukannya “Saya bangga punya anak seperti Kamu, Papa beri dua jempol deh, bukan hanya dua jempol saja tapi Papa juga punya hadiah untuk kamu, Papa yakin kamu suka,” ucap papa sambil mengambil sesuatu di dalam kantong lalu memberikan selembar kertas itu pada Cintya. Lalu Cintya mengambilnya dan membacanya. Dengan terkejut, Cintya membaca dan mengerti arti isi dari kertas tersebut yang membuat Cintya mengalirkan air matanya lagi ‘’Umroh sekeluarga, Pa…’’ ucapnya meyakinkan kenyataannya. ‘’Iya Nak, alhamdulillah Papa punya rezeki dan cukup untuk kita sekeluarga bisa berangkat umroh bersama-sama,’’ ucap mama bahagia. Cintya kembali memeluk kedua orang tuanya berurai mata bahagia. ‘’Makasih Ma, Pa, Cintya sayang Kalian,’’ ucap Cintya pada orang tuanya. “Iya Nak, Mama dan Papa juga sayang dan bangga sama Kamu,” ucap mama pada Cintya.

            Para hadirin pun juga ikut menangis terharu. Cintya mengurai pelukannya dan mengambil microfon yang ada di depannya. Lalu Cintya menarik kedua orang tuanya dan Angel untuk ikut ke depan “Para hadirin saya punya lagu untuk mama dan papa dan semuanya ikut bernyanyi,’’ ucapnya sambil tersenyum lalu musik pun menggiringinya.

-AKU INGIN JADI HAFIDZ QUR’AN-

Kuputuskan satu impian

Aku ingin jadi hafidz Qur’an

Ku akan bertahan walau sulit melelahkan

Allah beri aku kekuatan

Kuimpikan sepasang mahkota

Kuberikan di akhirat kelak

Sebagai pertanda bahwa kau sangat kucinta

Aku cinta engkau karena Allah

Kucinta mama, kucinta papa

Kuharap doanya selalu dalam hati

I love you mama

I love papa

I LOVE MY FAMILY FOREVER IN MY HEART

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *